Postingan

Di Perjalanan

Agustus 23, 2020 sayup.. sayup melati mulai tertunduk layu menguncup dalam bisingnya jalan- perlahan terlelap bersama munajat  serupa sabar, asanya tak putus lalu hanyut - hilang redam  sesekali, tatapnya lurus pada sebuah persimpangan sesekali, peluhnya bersatu seirama embunan  yang hadir saat gulita mulai menghilang  serupa sabar,  begitu jalan yang ia teguhkan 

ini jalan

Ini jalan mulai terasa begitu panjang Banyak kelokan Bahkan kemarin sempat hampir masuk jurang Ini jalan sudah hatam di mana tibanya Tapi mengapa bingung juga Mengapa takut juga Mengapa cemas juga Ini jalan mengapa penuh kesunyian Aku kesepian Aku sendirian Dan ini menakutkan

berat

pikiran tanggungan kehidupan

ego

Andai aku boleh egois Memikirkan diri sendiri tanpa peduli  Disayangi tanpa perlu memberi suatu yang berarti Diberi kasih tanpa perlu ku jaga sepenuh hati Andai hidup begitu mudah dilalui Dewasa tidak membuat pikiran melulu duniawi Bebas berlaku tanpa rasa peduli Bahagia karena semua sesuka hati  -kami yang belajar bertumbuh dewasa- Depok, 14 Februari

2.05

Dear diary, seandainya malam bisa diajak bernegosiasi aku ingin memintanya, untuk sekali saja kita tak lelap bersama bahkan jika boleh, biarkan aku nikmati rembulan yang bertabur bintang sambil bercakap, menyiasati bagaimana kiranya agar kita terus berteman dengan sejuk yang menghangatkan

Ayah

sepotong baju baru menjadi mimpi yang tak sempat berubah jadi nyata setangkai bunga dan pot tanah terlambat untuk menjadi hadiah tanda kasih dan pelipur kecewa seekor ikan dan semangkuk sambal tak lagi bisa dijadikan jamuan kala kita kembali bersua sebait cerita tentang betapa Ibu mencinta belum terangkai menjelma sajak indah dan dibaca untuk penutup senja

Malam Panjang

nyaris empat purnama surya menghilang dari peredaran dan bulan masih mendamba sinarnya nyaris empat purnama kemarau berpamitan dan hujan masih menitip rindu di sela tanah yang berkerak nyaris empat purnama kita meniti jalan berbeda dan aku berusaha melaluinya dengan alas penuh bara