Postingan

(meng-)hantu(-i)

di sebuah pendopo kosong, kau duduk dengan sejuta ekspresi  yang ku tebak tengah memaknai arti merindu sebetulnya, apa inginmu? pernah kau pikirkan itu? atau ... sedang? 

aku layak kamu perjuangkan

ketika mentari menyinari harimu dengan cahaya lembut nan hangat  di sela itu,  aku layak kamu perjuangkan  ketika kemarau lama menjelang  dan langit mendung mulai datang  di tepi itu, aku layak kamu perjuangkan ketika semi menghilang  dan rerumputan mulai kecokelatan di masa itu, aku layak kamu perjuangkan

sepatu putih.

dia sudah berjalan  mencari kamu. ke sana ke mari hingga kini mulai usang. dia masih memaksa berjalan mencari kamu.

kenangan

nyaris satu purnama kamu pergi hilang entah ke mana dari pandangan hanya pikirku yang kini jadi hiburan bahwa kisah kita nyata  dengan sejuta kesalahan yang tercipta. 

menyisakan catatan

kamu yang belum usai ku tulis kisahmu masih berputar  di kepalaku. penaku, habis tinta  jadi, kamu masih bergulat  di atas meja, yang bahkan  belum sempat ku beri tanda jeda

sabar

sayu tatapmu melewati waktu  dengan penuh tanda tanya di kepala teriring cemas di dada terasa duka sebentar lagi tiba bait demi bait doa  kamu panjatkan pada-Nya  namun, tetap belum terobati luka  sabar ya... sabar saja.

Sepotong Roti Yang Tersisa

di atas meja,  selesai sudah riuh redam suara mereka yang mampir silih berganti  yang tersisa hanya sepotong roti ditinggalkan pemiliknya  yang tak lagi punya rasa  kini, dia tertegun sendiri berteman malam yang temaram  1 Februari 2022